Rabu, 02 Desember 2009

Kami Pernah Menjadi Manusia

Dulu sekali, kami pernah menjadi manusia. Diselimuti santun sesekali, dibubuhi superioritas juga sedikit. Karena apa yang hidup akan menghidupkan kehidupannya masing-masing dengan cara yang masing-masing, maka kami melangkah tergesa. Yang lambat, mati. Yang cepat, kehilangan budi.
Sepertinya begitu.
Sepertinya.

Dulu sekali, kami pernah menjadi manusia.
Dihidupkan dari darah, dibesarkan berdarah-darah, lalu mati begitu saja. Dan kami hidup hanya sekedar membuang darah. Tidak lebih. Tidak setetes darah pun lebih. Tidak.

Manusia?
Tidakkah itu nama kami?
Tidakkah itu tujuan dari asal kami?
Tidakkah itu pemberian kami?
Manusia?
Manusia?

Dulu sekali, kami pernah menjadi manusia.
Sebelum meteor-meteor dari galaksi merah menghujani tanah. Dari ibu yang tak hentinya berbicara sebab sesama, bapak yang bekerja dan semakin takut tertawa sampai saudara yang hilang kata tentang cinta dan ada.

Kembalilah.
Kembalilah kedalam pesonamu. Kedalam kemuliaanmu. Bersikaplah santun atas ekor buntut yang tidak kamu miliki. Berlarilah dalam taman taman Tuhan bukan dalam pacuan-pacuan setan. Telah dihidupkan kamu sekali saja dan diuntaikan sudah nafas Adam dalam nadimu.
Inilah pemberian terbesar!

Dulu sekali, kami pernah menjadi manusia.
Tidak, tidak aku sedang berbicara. Berbicara bukan menyalak!
Sungguh, aku masih ingin menjadi manusia.
Ingin sekali.

Sebelum Saya Siapakah Saya?

Sebelum saya siapakah saya?

Saya katakan, saya suka risalah. Seperti batu yang menjadi pasir, seperti laut yang menjadi garam, atau seperti gelap yang meninggalkan embun. Benarlah kami orang hidup seperti tak hidup. Ideologi humaniora, kami bentur-benturkan pada poros liar! Seperti kelompok benalu yang melagukan tentang keikhlasan. Seperti pemerintah yang akan berjanji mengabdi pada janji.
Kami sungguh bukan kami.
Bukan.

Sebelum saya siapakah saya?

Saya, kamu, dia, dan mereka adalah anak Tuhan yang tidak dihidupkan yatim. Orangtua kami yang terbesar. Dia sungguh terhebat yang pernah kami miliki. Kuasanya tak berbatas tak berbalas. Dan sekali waktu pernahkah kami peduli apalah bagiNya pengabdian? Sungguh kami jelata nista yang masih tertawa.

Sebelum saya siapakah saya?

Tidakkah saya menyesal untuk kelahiran tak berharap? Keinginan yang menginginkan ketidak inginan bergemuruh. Inilah kesemuan yang diberikan ibu saya hidup-hidup.


Tapi saya ingin sekali mati membawa iman, ibu.
Tolonglah.
Tolonglah.

Maka sebelum saya siapakah saya?