Kamis, 28 Januari 2010

MOONDOGS

Semua orang pasti sudah tahu bahwa Donnijantoro atau pria yang akrab disapa Donni ini adalah gitaris sekaligus mastermind dari grup musik Koil. Tapi apakah semua orang juga sudah tahu bahwa dibalik karya-karya mencengangkan yang diberikannya kepada Koil, Donni juga masih memiliki 'band' selain Koil? Bagi anda yang sudah tahu, saya akan mengajak anda semua untuk kembali mundur ke periode tahun 2003-an untuk sekedar bernostalgia sejenak mengingat kembali karya-karya 'mahal' dari gitaris jenius ini. Dan bagi anda semua yang masih juga belum tahu apa yang telah saya bicarakan dari tadi diatas, maka saya akan menuliskan sedikit review saya disini untuk mendeskripsikan se-objektif mungkin album dari salah satu side project brilian yang telah ditulis sekaligus diproduseri sendiri oleh seorang gitaris rock lokal multi talenta.



MOONDOGS.


MOONDOGS berdiri pada sekitar tahun 2003-an dan Menurut pengakuan dari Donni, MOONDOGS adalah tempat terbaik baginya untuk menyalurkan karya-karyanya yang saat itu tidak dapat terpakai oleh Koil. Entah bercanda atau serius tapi Donni mengaku hanya membutuhkan waktu yang kurang dari satu bulan untuk melahirkan album yang didalamnya berisikan empat lagu-lagu industrial rock ini.

Album MOONDOGS saat itu dirilis sendiri oleh Apocalypse Rekords dalam bentuk kaset dan saya tidak jelas juga waktu itu berapa keping tepatnya jumlah yang sudah disebar luaskan ke pasaran, karena terus terang sejak saya mendapatkan album itu pada tahun 2003, sampai saat ini saya sudah tidak pernah melihat kembali Album itu ditemui di semua perdagangan musik baik yang 'gelap' maupun yang terang benderang sekalipun.

" Pretty Vacant " mengawali empat nomor di album ini. sebuah remix dari karya Sex Pistol yang terkenal itu dapat di sajikan kembali secara utuh oleh MOONDOGS dengan identitas baru yang sangat gelap dan lebih danceable. Dibuka dengan intro ambience yang perlahan dan menghanyutkan, namun memasuki menit-menit selanjutnya, anda akan merasakan dunia baru yang ditawarkan MOONDOGS untuk kuping anda. Dentuman-dentuman mesin industrial seolah mendadak berjatuhan mengiringi bebunyian ajaib lainnya yang membawa kita sekejap lupa oleh ambience yang di awal tadi sudah membuai sendu telinga kita. " Oh, we're so pretty, oh so pretty vacant.. "

Nomor selanjutnya " My Memory Serves Me Far Too Well " juga tidak akan banyak membantu anda untuk menyelamatkan diri anda dari teror dan kepungan dentum mesin-mesin berdistorsi yang telah anda temui di nomor sebelumnya. Sungguh impresi yang mendalam dan mengagetkan telah datang bertalu-talu dari speaker bobrok saya ini.

Akan tetapi justru " A Lifetime Serving One Machine " lah yang menurut saya klimaks dari album ini. Nomor ketiga yang diletakkan diawal side b tersebut membuat saya mendadak terlunta-lunta tanpa tujuan yang jelas didalam alam imajinasi yang saya ciptakan sendiri. Diawali dengan pattern dentuman drum mesin khas industrial kasar dan sadis yang berjalan sendirian, lalu sekejap kemudian bebunyian-bebunyian ajaib itu berserakan dimana-mana. Membuat anda tetap terjaga dan terus berfikir " Suara apa saja ini? "

Akhirnya " One Day is Fine, The Next is Black " menjadi lagu penutup album ini. Mengawang, imajinatif, dan melankolis. Sebuah tembang penutup yang sempurna untuk mengakhiri teror dan kegelisahan yang diciptakan oleh nomor-nomor sebelumnya. Tetap melankolis tanpa menghilangkan unsur sadis.

Overall, album ini sangat layak untuk dimiliki oleh anda yang ingin tahu seperti apa sih teror bebunyian itu. Atau yang dideskripsikan sendiri oleh MOONDOGS di sleve covernya " Dog Music For Moon People ". Inilah album yang patut anda dapatkan. Sebuah rilisan album yang kelam, mencekam, sekaligus cerdas yang ditulis sendiri oleh salah satu artist lokal bertalenta cemerlang. Selamat menyelami fantasi dan imajinasi tergelap anda kedalam batas dan lorong-lorong yang tak berujung dan berkesudahan.