Kerinduan..
Menjadikanku tubuh tak berbadan!
Sesat dalam keberadaan.
Erat dalam ketakutan.Maka ketika aku berbadan dua dari wanita yang kujaga,
masa depan menjadi setengah langkah di depan mata.
sudah.
Aku menjemput awal dari akhir hidupku.
Menggenggam jari-jari wanita yang kelak kunikahi.
Kukatakan kepadanya,
Cinta bersama kita. Dibelakang.
Disebelah.
Didepan.
Didalam.
Ada dimana-mana.
Dimana-mana.
Dimana-mana.
Maka kerinduan yang hari ini kukandung,
semakin membesar.
memberatkan langkahku.
menyiksaku akan nyawa yang kukandung sendiri.
Inilah kehamilanku!
Membebaniku jauh lebih mengerikan dari setiap tetes darah hitam yang pernah ada.
Kerinduanmu,
Kerinduanku,
Dan inilah seni dari
jatuh cinta yang paling
mengerikan.
Jumat, 27 November 2009
Kamis, 26 November 2009
Pembunuhan Suci
Aku lalu memandangimu
dari lilin-lilin, yang telah engkau nyalakan sendiri.
Seperti Ananta mematuhi Wisnu, aku mendengarmu.
Maka bicaralah.
Kemukakan pertentangan itu.
Dan sanggahlah aku!
Kita seduduk dalam binar-binar kerinduan.
Kebencian yang tertular, dan kecintaan yang menjangkit diseluruh tubuhmu dan tubuhku melahirkan beribu benih-benih kesakitan baru setiap malamnya.
Lalu apa yang harus aku katakan lagi tentang negara ini?
Apa yang masih ingin kumiliki dari semua kehilangan ini?
Dan engkau seperti membalikkan tubuhku.
Memperlihatkan bulir-bulir kepedihan tumpah diwajahmu. Tersenyumlah!
Tersenyumlah!
Aku tidak ingin menjadikanmu Yudas dari pembunuhan suci ini.
Lalu engkau berbalik dan pergi sekali lagi. Jauh sekali.
Dan surga sudah terlanjur terbakar, saudaraku..
dari lilin-lilin, yang telah engkau nyalakan sendiri.
Seperti Ananta mematuhi Wisnu, aku mendengarmu.
Maka bicaralah.
Kemukakan pertentangan itu.
Dan sanggahlah aku!
Kita seduduk dalam binar-binar kerinduan.
Kebencian yang tertular, dan kecintaan yang menjangkit diseluruh tubuhmu dan tubuhku melahirkan beribu benih-benih kesakitan baru setiap malamnya.
Lalu apa yang harus aku katakan lagi tentang negara ini?
Apa yang masih ingin kumiliki dari semua kehilangan ini?
Dan engkau seperti membalikkan tubuhku.
Memperlihatkan bulir-bulir kepedihan tumpah diwajahmu. Tersenyumlah!
Tersenyumlah!
Aku tidak ingin menjadikanmu Yudas dari pembunuhan suci ini.
Lalu engkau berbalik dan pergi sekali lagi. Jauh sekali.
Dan surga sudah terlanjur terbakar, saudaraku..
Re- Evaluasi
Inilah penyembahanku,
wahai masa depan!
Penyakit yang kurawat,
Kebodohan mengagumkan kubuat,
Kelak keduanya mati membusuk dalam tubuhmu..
Darah menggenangi hati.
Berceceran dihadapan Tuhan!
Atas nama janji,
aku pergi meninggalkan Engkau, Tanah tujuanku..
Aku berbicara tentang mimpi-mimpi yang pilu.
Monolog hampa disetiap subuh.
Akankah waktu akan menjadi sayap-sayap
kemegahan diatas kelumpuhan
yang mengerikan ini?
Diatas lutut lemah ini
aku menunduk pada zat
yang menciptakan
pengampunan..
Dan kesedihan terasa
begitu dekat malam ini.
Mengendap-endap dari ujung lorong tak berujung.
Datang dalam
jubah-jubah hitam kebesaran malam.
Dan Dia mengecup keningku begitu hangat!
Hangat sekali..
maka dari titik inilah
kita akan kembali
kedalam kekosongan jiwa
masing-masing.
Sesungguhnya,
hari ini adalah kemarin dan kemarin
adalah esok lusa..
wahai masa depan!
Penyakit yang kurawat,
Kebodohan mengagumkan kubuat,
Kelak keduanya mati membusuk dalam tubuhmu..
Darah menggenangi hati.
Berceceran dihadapan Tuhan!
Atas nama janji,
aku pergi meninggalkan Engkau, Tanah tujuanku..
Aku berbicara tentang mimpi-mimpi yang pilu.
Monolog hampa disetiap subuh.
Akankah waktu akan menjadi sayap-sayap
kemegahan diatas kelumpuhan
yang mengerikan ini?
Diatas lutut lemah ini
aku menunduk pada zat
yang menciptakan
pengampunan..
Dan kesedihan terasa
begitu dekat malam ini.
Mengendap-endap dari ujung lorong tak berujung.
Datang dalam
jubah-jubah hitam kebesaran malam.
Dan Dia mengecup keningku begitu hangat!
Hangat sekali..
maka dari titik inilah
kita akan kembali
kedalam kekosongan jiwa
masing-masing.
Sesungguhnya,
hari ini adalah kemarin dan kemarin
adalah esok lusa..
Pulang Kerumah Taubat
Pelayan Dosa,
Dijemat jarimu istana kami.
Diujung lidahmu tangisan kami.
Sembilu dalam dada
Gairah muda yang berdosa,
Hari ini telah kami bakar surga!
Hati yang patah,
Telah merekatkan kecantikan yang penuh darah.
Bentuk-bentuk ketidakwajaran,
telah menjadikan kematian lebih indah.
dan sambutlah kami pulang, wahai pengampunan.
Dijemat jarimu istana kami.
Diujung lidahmu tangisan kami.
Sembilu dalam dada
Gairah muda yang berdosa,
Hari ini telah kami bakar surga!
Hati yang patah,
Telah merekatkan kecantikan yang penuh darah.
Bentuk-bentuk ketidakwajaran,
telah menjadikan kematian lebih indah.
dan sambutlah kami pulang, wahai pengampunan.
Langganan:
Komentar (Atom)