Sabtu, 25 September 2010

Cermin

Yang aku lihat di wajahku adalah embrio kematian. Seperti larva-larva kesakitan yang bergumpal- gumpal. Seperti biakkan benih-benih kemarahan. Seperti ketakutan yang beranak pinak. Seperti kegelapan. Hanya kegelapan.

Yang aku lihat dari wajahmu adalah temaram. Dari elegi malam yang merubah pelangi hitam menjadi pagi. Seperti suara anak kecil yang bermain dibawah hujan. Seperti denting piano putih yang mengalun anggun. Seperti sore hari. Seperti aku pertama kali mendengarmu. Dulu sekali. Dulu sekali

Lalu yang aku lihat di wajah kita adalah awal. Seperti bau embun diujung halamanku. Seperti balita yang sedang terkekeh kepada malaikat. Seperti lautan teduh yang tenang. Seperti kaki-kaki kecil yang belajar berjalan. Seperti permulaan. Permulaan.

Semua yang aku lihat dari wajahku, wajahmu dan wajah kita berdua adalah heterogensi. Sampai akhirnya aku tersadar. Cermin yang kupandangi adalah dirimu. Aku berdiri dihadapanmu dan aku melihat diriku. Terimakasih untuk kemajemukan ini. Terimakasih untuk segalanya. Segalanya

Dan akhirnya yang aku lihat di wajahku adalah wajahmu.

Terimakasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar