Sebelum saya siapakah saya?
Saya katakan, saya suka risalah. Seperti batu yang menjadi pasir, seperti laut yang menjadi garam, atau seperti gelap yang meninggalkan embun.
Benarlah kami orang hidup seperti tak hidup.
Ideologi humaniora, kami bentur-benturkan pada poros liar!
Seperti kelompok benalu yang melagukan tentang keikhlasan. Seperti pemerintah yang akan berjanji mengabdi pada janji.
Kami sungguh bukan kami.
Bukan.
Sebelum saya siapakah saya?
Saya, kamu, dia, dan mereka adalah anak Tuhan yang tidak dihidupkan yatim.
Orangtua kami yang terbesar.
Dia sungguh terhebat yang pernah kami miliki.
Kuasanya tak berbatas tak berbalas.
Dan sekali waktu pernahkah kami peduli apalah bagiNya pengabdian?
Sungguh kami jelata nista yang masih tertawa.
Sebelum saya siapakah saya?
Tidakkah saya menyesal untuk kelahiran tak berharap?
Keinginan yang menginginkan ketidak inginan bergemuruh. Inilah kesemuan yang diberikan ibu saya hidup-hidup.
Tapi saya ingin sekali mati membawa iman, ibu.
Tolonglah.
Tolonglah.
Maka sebelum saya siapakah saya?
Sabtu, 25 September 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar