Semua orang pasti sudah tahu bahwa Donnijantoro atau pria yang akrab disapa Donni ini adalah gitaris sekaligus mastermind dari grup musik Koil. Tapi apakah semua orang juga sudah tahu bahwa dibalik karya-karya mencengangkan yang diberikannya kepada Koil, Donni juga masih memiliki 'band' selain Koil? Bagi anda yang sudah tahu, saya akan mengajak anda semua untuk kembali mundur ke periode tahun 2003-an untuk sekedar bernostalgia sejenak mengingat kembali karya-karya 'mahal' dari gitaris jenius ini. Dan bagi anda semua yang masih juga belum tahu apa yang telah saya bicarakan dari tadi diatas, maka saya akan menuliskan sedikit review saya disini untuk mendeskripsikan se-objektif mungkin album dari salah satu side project brilian yang telah ditulis sekaligus diproduseri sendiri oleh seorang gitaris rock lokal multi talenta.
MOONDOGS.
MOONDOGS berdiri pada sekitar tahun 2003-an dan Menurut pengakuan dari Donni, MOONDOGS adalah tempat terbaik baginya untuk menyalurkan karya-karyanya yang saat itu tidak dapat terpakai oleh Koil. Entah bercanda atau serius tapi Donni mengaku hanya membutuhkan waktu yang kurang dari satu bulan untuk melahirkan album yang didalamnya berisikan empat lagu-lagu industrial rock ini.
Album MOONDOGS saat itu dirilis sendiri oleh Apocalypse Rekords dalam bentuk kaset dan saya tidak jelas juga waktu itu berapa keping tepatnya jumlah yang sudah disebar luaskan ke pasaran, karena terus terang sejak saya mendapatkan album itu pada tahun 2003, sampai saat ini saya sudah tidak pernah melihat kembali Album itu ditemui di semua perdagangan musik baik yang 'gelap' maupun yang terang benderang sekalipun.
" Pretty Vacant " mengawali empat nomor di album ini. sebuah remix dari karya Sex Pistol yang terkenal itu dapat di sajikan kembali secara utuh oleh MOONDOGS dengan identitas baru yang sangat gelap dan lebih danceable. Dibuka dengan intro ambience yang perlahan dan menghanyutkan, namun memasuki menit-menit selanjutnya, anda akan merasakan dunia baru yang ditawarkan MOONDOGS untuk kuping anda. Dentuman-dentuman mesin industrial seolah mendadak berjatuhan mengiringi bebunyian ajaib lainnya yang membawa kita sekejap lupa oleh ambience yang di awal tadi sudah membuai sendu telinga kita. " Oh, we're so pretty, oh so pretty vacant.. "
Nomor selanjutnya " My Memory Serves Me Far Too Well " juga tidak akan banyak membantu anda untuk menyelamatkan diri anda dari teror dan kepungan dentum mesin-mesin berdistorsi yang telah anda temui di nomor sebelumnya. Sungguh impresi yang mendalam dan mengagetkan telah datang bertalu-talu dari speaker bobrok saya ini.
Akan tetapi justru " A Lifetime Serving One Machine " lah yang menurut saya klimaks dari album ini. Nomor ketiga yang diletakkan diawal side b tersebut membuat saya mendadak terlunta-lunta tanpa tujuan yang jelas didalam alam imajinasi yang saya ciptakan sendiri. Diawali dengan pattern dentuman drum mesin khas industrial kasar dan sadis yang berjalan sendirian, lalu sekejap kemudian bebunyian-bebunyian ajaib itu berserakan dimana-mana. Membuat anda tetap terjaga dan terus berfikir " Suara apa saja ini? "
Akhirnya " One Day is Fine, The Next is Black " menjadi lagu penutup album ini. Mengawang, imajinatif, dan melankolis. Sebuah tembang penutup yang sempurna untuk mengakhiri teror dan kegelisahan yang diciptakan oleh nomor-nomor sebelumnya. Tetap melankolis tanpa menghilangkan unsur sadis.
Overall, album ini sangat layak untuk dimiliki oleh anda yang ingin tahu seperti apa sih teror bebunyian itu. Atau yang dideskripsikan sendiri oleh MOONDOGS di sleve covernya " Dog Music For Moon People ". Inilah album yang patut anda dapatkan. Sebuah rilisan album yang kelam, mencekam, sekaligus cerdas yang ditulis sendiri oleh salah satu artist lokal bertalenta cemerlang. Selamat menyelami fantasi dan imajinasi tergelap anda kedalam batas dan lorong-lorong yang tak berujung dan berkesudahan.
Kamis, 28 Januari 2010
Rabu, 02 Desember 2009
Kami Pernah Menjadi Manusia
Dulu sekali, kami pernah menjadi manusia. Diselimuti santun sesekali, dibubuhi superioritas juga sedikit. Karena apa yang hidup akan menghidupkan kehidupannya masing-masing dengan cara yang masing-masing, maka kami melangkah tergesa. Yang lambat, mati. Yang cepat, kehilangan budi.
Sepertinya begitu.
Sepertinya.
Dulu sekali, kami pernah menjadi manusia.
Dihidupkan dari darah, dibesarkan berdarah-darah, lalu mati begitu saja. Dan kami hidup hanya sekedar membuang darah. Tidak lebih. Tidak setetes darah pun lebih. Tidak.
Manusia?
Tidakkah itu nama kami?
Tidakkah itu tujuan dari asal kami?
Tidakkah itu pemberian kami?
Manusia?
Manusia?
Dulu sekali, kami pernah menjadi manusia.
Sebelum meteor-meteor dari galaksi merah menghujani tanah. Dari ibu yang tak hentinya berbicara sebab sesama, bapak yang bekerja dan semakin takut tertawa sampai saudara yang hilang kata tentang cinta dan ada.
Kembalilah.
Kembalilah kedalam pesonamu. Kedalam kemuliaanmu. Bersikaplah santun atas ekor buntut yang tidak kamu miliki. Berlarilah dalam taman taman Tuhan bukan dalam pacuan-pacuan setan. Telah dihidupkan kamu sekali saja dan diuntaikan sudah nafas Adam dalam nadimu.
Inilah pemberian terbesar!
Dulu sekali, kami pernah menjadi manusia.
Tidak, tidak aku sedang berbicara. Berbicara bukan menyalak!
Sungguh, aku masih ingin menjadi manusia.
Ingin sekali.
Sepertinya begitu.
Sepertinya.
Dulu sekali, kami pernah menjadi manusia.
Dihidupkan dari darah, dibesarkan berdarah-darah, lalu mati begitu saja. Dan kami hidup hanya sekedar membuang darah. Tidak lebih. Tidak setetes darah pun lebih. Tidak.
Manusia?
Tidakkah itu nama kami?
Tidakkah itu tujuan dari asal kami?
Tidakkah itu pemberian kami?
Manusia?
Manusia?
Dulu sekali, kami pernah menjadi manusia.
Sebelum meteor-meteor dari galaksi merah menghujani tanah. Dari ibu yang tak hentinya berbicara sebab sesama, bapak yang bekerja dan semakin takut tertawa sampai saudara yang hilang kata tentang cinta dan ada.
Kembalilah.
Kembalilah kedalam pesonamu. Kedalam kemuliaanmu. Bersikaplah santun atas ekor buntut yang tidak kamu miliki. Berlarilah dalam taman taman Tuhan bukan dalam pacuan-pacuan setan. Telah dihidupkan kamu sekali saja dan diuntaikan sudah nafas Adam dalam nadimu.
Inilah pemberian terbesar!
Dulu sekali, kami pernah menjadi manusia.
Tidak, tidak aku sedang berbicara. Berbicara bukan menyalak!
Sungguh, aku masih ingin menjadi manusia.
Ingin sekali.
Sebelum Saya Siapakah Saya?
Sebelum saya siapakah saya?
Saya katakan, saya suka risalah. Seperti batu yang menjadi pasir, seperti laut yang menjadi garam, atau seperti gelap yang meninggalkan embun. Benarlah kami orang hidup seperti tak hidup. Ideologi humaniora, kami bentur-benturkan pada poros liar! Seperti kelompok benalu yang melagukan tentang keikhlasan. Seperti pemerintah yang akan berjanji mengabdi pada janji.
Kami sungguh bukan kami.
Bukan.
Sebelum saya siapakah saya?
Saya, kamu, dia, dan mereka adalah anak Tuhan yang tidak dihidupkan yatim. Orangtua kami yang terbesar. Dia sungguh terhebat yang pernah kami miliki. Kuasanya tak berbatas tak berbalas. Dan sekali waktu pernahkah kami peduli apalah bagiNya pengabdian? Sungguh kami jelata nista yang masih tertawa.
Sebelum saya siapakah saya?
Tidakkah saya menyesal untuk kelahiran tak berharap? Keinginan yang menginginkan ketidak inginan bergemuruh. Inilah kesemuan yang diberikan ibu saya hidup-hidup.
Tapi saya ingin sekali mati membawa iman, ibu.
Tolonglah.
Tolonglah.
Maka sebelum saya siapakah saya?
Saya katakan, saya suka risalah. Seperti batu yang menjadi pasir, seperti laut yang menjadi garam, atau seperti gelap yang meninggalkan embun. Benarlah kami orang hidup seperti tak hidup. Ideologi humaniora, kami bentur-benturkan pada poros liar! Seperti kelompok benalu yang melagukan tentang keikhlasan. Seperti pemerintah yang akan berjanji mengabdi pada janji.
Kami sungguh bukan kami.
Bukan.
Sebelum saya siapakah saya?
Saya, kamu, dia, dan mereka adalah anak Tuhan yang tidak dihidupkan yatim. Orangtua kami yang terbesar. Dia sungguh terhebat yang pernah kami miliki. Kuasanya tak berbatas tak berbalas. Dan sekali waktu pernahkah kami peduli apalah bagiNya pengabdian? Sungguh kami jelata nista yang masih tertawa.
Sebelum saya siapakah saya?
Tidakkah saya menyesal untuk kelahiran tak berharap? Keinginan yang menginginkan ketidak inginan bergemuruh. Inilah kesemuan yang diberikan ibu saya hidup-hidup.
Tapi saya ingin sekali mati membawa iman, ibu.
Tolonglah.
Tolonglah.
Maka sebelum saya siapakah saya?
Jumat, 27 November 2009
Teori Kerinduan
Kerinduan..
Menjadikanku tubuh tak berbadan!
Sesat dalam keberadaan.
Erat dalam ketakutan.Maka ketika aku berbadan dua dari wanita yang kujaga,
masa depan menjadi setengah langkah di depan mata.
sudah.
Aku menjemput awal dari akhir hidupku.
Menggenggam jari-jari wanita yang kelak kunikahi.
Kukatakan kepadanya,
Cinta bersama kita. Dibelakang.
Disebelah.
Didepan.
Didalam.
Ada dimana-mana.
Dimana-mana.
Dimana-mana.
Maka kerinduan yang hari ini kukandung,
semakin membesar.
memberatkan langkahku.
menyiksaku akan nyawa yang kukandung sendiri.
Inilah kehamilanku!
Membebaniku jauh lebih mengerikan dari setiap tetes darah hitam yang pernah ada.
Kerinduanmu,
Kerinduanku,
Dan inilah seni dari
jatuh cinta yang paling
mengerikan.
Menjadikanku tubuh tak berbadan!
Sesat dalam keberadaan.
Erat dalam ketakutan.Maka ketika aku berbadan dua dari wanita yang kujaga,
masa depan menjadi setengah langkah di depan mata.
sudah.
Aku menjemput awal dari akhir hidupku.
Menggenggam jari-jari wanita yang kelak kunikahi.
Kukatakan kepadanya,
Cinta bersama kita. Dibelakang.
Disebelah.
Didepan.
Didalam.
Ada dimana-mana.
Dimana-mana.
Dimana-mana.
Maka kerinduan yang hari ini kukandung,
semakin membesar.
memberatkan langkahku.
menyiksaku akan nyawa yang kukandung sendiri.
Inilah kehamilanku!
Membebaniku jauh lebih mengerikan dari setiap tetes darah hitam yang pernah ada.
Kerinduanmu,
Kerinduanku,
Dan inilah seni dari
jatuh cinta yang paling
mengerikan.
Kamis, 26 November 2009
Pembunuhan Suci
Aku lalu memandangimu
dari lilin-lilin, yang telah engkau nyalakan sendiri.
Seperti Ananta mematuhi Wisnu, aku mendengarmu.
Maka bicaralah.
Kemukakan pertentangan itu.
Dan sanggahlah aku!
Kita seduduk dalam binar-binar kerinduan.
Kebencian yang tertular, dan kecintaan yang menjangkit diseluruh tubuhmu dan tubuhku melahirkan beribu benih-benih kesakitan baru setiap malamnya.
Lalu apa yang harus aku katakan lagi tentang negara ini?
Apa yang masih ingin kumiliki dari semua kehilangan ini?
Dan engkau seperti membalikkan tubuhku.
Memperlihatkan bulir-bulir kepedihan tumpah diwajahmu. Tersenyumlah!
Tersenyumlah!
Aku tidak ingin menjadikanmu Yudas dari pembunuhan suci ini.
Lalu engkau berbalik dan pergi sekali lagi. Jauh sekali.
Dan surga sudah terlanjur terbakar, saudaraku..
dari lilin-lilin, yang telah engkau nyalakan sendiri.
Seperti Ananta mematuhi Wisnu, aku mendengarmu.
Maka bicaralah.
Kemukakan pertentangan itu.
Dan sanggahlah aku!
Kita seduduk dalam binar-binar kerinduan.
Kebencian yang tertular, dan kecintaan yang menjangkit diseluruh tubuhmu dan tubuhku melahirkan beribu benih-benih kesakitan baru setiap malamnya.
Lalu apa yang harus aku katakan lagi tentang negara ini?
Apa yang masih ingin kumiliki dari semua kehilangan ini?
Dan engkau seperti membalikkan tubuhku.
Memperlihatkan bulir-bulir kepedihan tumpah diwajahmu. Tersenyumlah!
Tersenyumlah!
Aku tidak ingin menjadikanmu Yudas dari pembunuhan suci ini.
Lalu engkau berbalik dan pergi sekali lagi. Jauh sekali.
Dan surga sudah terlanjur terbakar, saudaraku..
Re- Evaluasi
Inilah penyembahanku,
wahai masa depan!
Penyakit yang kurawat,
Kebodohan mengagumkan kubuat,
Kelak keduanya mati membusuk dalam tubuhmu..
Darah menggenangi hati.
Berceceran dihadapan Tuhan!
Atas nama janji,
aku pergi meninggalkan Engkau, Tanah tujuanku..
Aku berbicara tentang mimpi-mimpi yang pilu.
Monolog hampa disetiap subuh.
Akankah waktu akan menjadi sayap-sayap
kemegahan diatas kelumpuhan
yang mengerikan ini?
Diatas lutut lemah ini
aku menunduk pada zat
yang menciptakan
pengampunan..
Dan kesedihan terasa
begitu dekat malam ini.
Mengendap-endap dari ujung lorong tak berujung.
Datang dalam
jubah-jubah hitam kebesaran malam.
Dan Dia mengecup keningku begitu hangat!
Hangat sekali..
maka dari titik inilah
kita akan kembali
kedalam kekosongan jiwa
masing-masing.
Sesungguhnya,
hari ini adalah kemarin dan kemarin
adalah esok lusa..
wahai masa depan!
Penyakit yang kurawat,
Kebodohan mengagumkan kubuat,
Kelak keduanya mati membusuk dalam tubuhmu..
Darah menggenangi hati.
Berceceran dihadapan Tuhan!
Atas nama janji,
aku pergi meninggalkan Engkau, Tanah tujuanku..
Aku berbicara tentang mimpi-mimpi yang pilu.
Monolog hampa disetiap subuh.
Akankah waktu akan menjadi sayap-sayap
kemegahan diatas kelumpuhan
yang mengerikan ini?
Diatas lutut lemah ini
aku menunduk pada zat
yang menciptakan
pengampunan..
Dan kesedihan terasa
begitu dekat malam ini.
Mengendap-endap dari ujung lorong tak berujung.
Datang dalam
jubah-jubah hitam kebesaran malam.
Dan Dia mengecup keningku begitu hangat!
Hangat sekali..
maka dari titik inilah
kita akan kembali
kedalam kekosongan jiwa
masing-masing.
Sesungguhnya,
hari ini adalah kemarin dan kemarin
adalah esok lusa..
Pulang Kerumah Taubat
Pelayan Dosa,
Dijemat jarimu istana kami.
Diujung lidahmu tangisan kami.
Sembilu dalam dada
Gairah muda yang berdosa,
Hari ini telah kami bakar surga!
Hati yang patah,
Telah merekatkan kecantikan yang penuh darah.
Bentuk-bentuk ketidakwajaran,
telah menjadikan kematian lebih indah.
dan sambutlah kami pulang, wahai pengampunan.
Dijemat jarimu istana kami.
Diujung lidahmu tangisan kami.
Sembilu dalam dada
Gairah muda yang berdosa,
Hari ini telah kami bakar surga!
Hati yang patah,
Telah merekatkan kecantikan yang penuh darah.
Bentuk-bentuk ketidakwajaran,
telah menjadikan kematian lebih indah.
dan sambutlah kami pulang, wahai pengampunan.
Langganan:
Postingan (Atom)